Bromo

Dari pantai Sukamade sampai Gunung Bromo – bagian 3

Mt Bromo Dari pantai Sukamade sampai Gunung Bromo   bagian 3Setelah kegiatan yang menyenangkan mengamati penyu bertelur di malam bulan purnama dan melepas bayi-bayi penyu di pantai Sukamade, kami berlima (Alan Yeo Yuan Lun, Loh Ee Chong, Hu Enwei dan Ong Peng Kiat) akan melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo via Probolinggo, kami singgah di rumah salah seorang kawan di Banyuwangi untuk istirahat sejenak dan cuci muka serta mengganti kendaraan yang kami gunakan. Dari Banyuwangi ke Probolinggo, kita bisa menggunakan salah satu dari alternatif dua jalur, bisa via Jember atau via Situbondo, kawan kami menyarankan untuk menggunakan jalur Situbondo dengan pertimbangan kondisi jalan yang lebih datar dan nyaman, setelah menuntaskan urusan, kami memulai perjalanan menuju Gunung Bromo di Probolinggo, perjalanan ini masih akan berlangsung selama kurang lebih 6-7 jam, sepanjang perjalanan kawan-kawanku menghabiskan waktu dengan main kartu di bagian belakang mobil dan ngobrol entah topik apa yang dibahas, karena aku tidak mengerti bahasa mereka, kami sesekali berhenti di mini market membeli air mineral, bir, snack dan makan malam di Kraksaan – Probolinggo, di sebuah warung yang menyajikan hidangan sea food.

Aku ditawari satu kaleng bir oleh kawan-kawanku untuk diminum bersama-sama, dengan wajah sedikit bersalah mereka bilang “kami tau bir mungkin dilarang dikonsumsi di Indonesia, tapi kami ingin tos untuk bos” dan kami pun minum bersama-sama. Pikirku waktu itu, dilarang itu mungkin dulu, sedangkan sekarang, kita bisa membeli bir di hampir setiap mini market yang bisa ditemui di sepanjang jalan di pulau Jawa, dan bagiku sendiri itu bukan masalah besar. Kami juga berbagi pengetahuan dalam memainkan kartu dan bercerita tentang motivasi bermain kartu di masing-masing negara, dari obrolan ini aku tau beberapa perbedaan umum motivasi permainan kartu antara Singapore dan Indonesia, mereka bertaruh di setiap permainan kartu, di Indonesia permainan kartu tidak selalu untuk berjuadi, seringkali justru digunakan untuk hiburan semata, di Singapore perjudian  tertentu dilegalkan secara hukum tapi tidak di Indonesia, orang-orang selalu sembunyi-sembunyi saat berjudi, sedangkan di Singapore, mereka bebas melakukannya, dan ia menjadi salah satu income pajak negara.

Kami tiba di hotel di kaki gunung Bromo kurang lebih jam 10 malam, begitu keluar dari mobil terasa udara segar dan dingin khas pegunungan dan kami menikmatinya, setelah minum teh hangat kami harus istirahat karena explore Bromo akan dimulai dini hari tepatnya jam 3 pagi, waktu yang relatif singkat sebenarnya untuk istirahat, tapi begitulah, jalan-jalan memang selalu menguras tenaga dan mengurangi durasi istirahat kita, jalan-jalan itu melelahkan tapi juga menyenangkan.

Jam 2.30 pagi aku dibangunkan oleh petugas hotel untuk bersiap, begitupun kawan-kawanku, kami dijemput Hardtop sekitar jam 3.15 pagi, pemilik Hardtop ini adalah langgananku setiap kali berkunjung ke Bromo, dan aku sudah menghubunginya jauh-jauh hari untuk explore Bromo hari ini. Pagi ini kami akan menyaksikan sunrise Bromo yang terkenal keindahannya itu, kami akan menuju Penanjakan, sebuah lokasi di ketinggian, dari sini kami bisa menikmati sunrise Bromo dengan latar belakang landscape pegunungan di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, saat tiba di Penanjakan, ternyata sudah ada banyak Hardtop yang mendahului kami, dan kami harus berjalan sekitar 100 meter karena Hardtop yang kami kendarai berada jauh di belakang antrian. Bromo nampaknya memang tak pernah sepi, setiap hari sepanjang tahun selalu ramai oleh pengunjung, termasuk saat kami berkunjung, walaupun hari kerja, orang-orang memenuhi Penanjakan untuk menyaksikan sunrise Bromo, udara dini hari di kawasan Bromo sebenarnya dingin, tapi karena ada ratusan orang yang berkumpul di sini, Bromo jadi tidak terasa dingin lagi.

Inilah moment yang ditunggu, saat matahari terbit, langit cerah di Bromo jadi berwarna, kombinasi antara biru langit, merah saat fajar dan kuning seperti membentuk lukisan pada latar yang sangat luas tak terjangkau, saat sinar mentari semakin menerang kami memalingkan pandangan ke sisi sebelah kanan dari titik timbul matahari terbit, keindahan lukisan alam memanjakan mata kami dan setiap pengunjung Bromo, lapisan pegunungan yang nampak agung dan indah dari kejauhan, di kelilingi lautan pasir yang dilindungi oleh tebing-tebing tinggi menggunung, dan kami sedang berdiri di salah satu tebing tersebut. Kawasan ini seperti terisolasi dari dunia luar dan membentuk dunianya sendiri, dari ketinggian nampak dengan jelas gunung Bromo yang gersang dan paling rendah dari pada yang lain, dari kawahnya mengepul asap belerang, di depan gunung Bromo adalah gunung Batok yang lebih tinggi dan hampir mustahil untuk didaki, pada sisi yang lebih jauh, Gunung Semeru, puncak tertinggi di tanah Jawa menjulang kokoh dan agung, mengambil gambar dengan latar belakang pegunungan tersebut, kita nampak seperti berada di lukisan yang mempesona.

Matahari semakin meninggi, kami turun dari Penanjakan menuju lautan pasir untuk  mengunjungi Bromo dan mendaki ke kawahnya, kami tiba di lokasi parkir Hardtop di tengah lautan pasir, dan empat kawanku meneruskan pendakian ke kawah Bromo dengan menunggang kuda, sementara aku karena sudah beberapa kali mengunjungi Bromo memilih untuk menunggu mereka di lokasi parkir sambil menikmati bakso panas dan bermain dengan anjing lucu milik penduduk lokal yang bermain di sekitar lokasi parkir. Dari kejauhan nampak jelas pura Poten terletak persis di bawah kaki gunung Bromo, sebuah tempat yang disucikan oleh masyarakat Tengger penduduk asli kawasan Bromo Tengger Semeru dan merupakan tempat peribadatan bagi umat Hindu, masyarakat Hindu di seluruh tanah air sesekali akan datang beribadah di pura ini, dan setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan sebuah upacara adat yang disebut Kasodo, upacara tersebut diawali arak-arakan rombongan yang membawa segala macam sesajen menuju pura tersebut untuk berdoa dan diakhiri dengan melempar sesajen ke kawah gunung Bromo. Pura Poten terletak di lautan paisr antara lokasi parkir Hardtop dan tangga yang menuju kawah Bromo.

Tak lama mereka berempat datang, dan aku sudah selesai makan baksoku, kami lalu melanjutkan menuju Savana Bromo tempat ini terkenal dengan sebutan Bukit Teletubbies karena bentuk yang menyerupai lokasi bermain boneka teletubbies dalam serie film kartun mereka, berbukit-bukit hijau dari kejauhan, ada sebuah jalur yang akan memandu kita sampai ketinggian tertentu ke bukit-bukit savana tersebut dan kita bisa menyusurinya, walaupun matahari terasa semakin terik, udara segara dan dingin membuat wisatawan yang berkunjung tetap nyaman bermain di sekitar perbukitan tersebut. Setelah puas mengambil gambar dan berfoto-foto kami meninggalkan savana Bromo menuju Pasir Berbisik, sebuah mini padang pasir yang terbentuk dari abu letusan Bromo, selama beratus atau bahkan beribu-ribu tahun, ini adalah spot terakhir yang akan dikunjungi untuk kegiatan explore Bromo, menjelang siang kami menyelesaikan explore Bromo dan kembali ke hotel untuk istirahat dan makan siang. Seperti biasa, aku akan mengajak kawan-kawanku untuk makan di rumah Mas Agung salah salah seorang kawanku yang sengaja aku minta untuk menyiapkan makan siang untuk kami berlima plus supir kami.

Lelah explore Bromo tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan lelah karena explore Ijen, medan pendakiannya jelas berbeda, lagipula di Bromo kami banyak terbantu oleh Hardtop yang akan mengantar kami ke semua tempat menarik di Bromo, setelah makan siang, kami istirahat di hotel karena jam 1 siang nanti kami akan melanjutkan mengunjungi salah satu air terjun legendaris yang masih memiliki hubungan sejarah dengan Mahapatih Gajahmada dari Majapahit, sebuah air terjun yang tinggi dan indah terletak di lereng pegunungan Bromo yang bernama air terjun Madakaripura.

Setelah istirahat sejenak kami berangkat menuju lokasi air terjun, kurang lebih 40 menit dari kawasan Bromo, begitu tiba di pintu gerbang air terjun, kami masih harus berjalan menyusuri tepi sungai dan terkadang menyebranginya dipandu oleh penduduk lokal yang kami sewa, setelah kurang lebih 30 menit, kami tiba di lokasi air terjun, disambut oleh cipatratan air terjun yang menyerupai hujan, setiap orang yang berkunjung ke air terjun ini pasti akan basah, terdapat banyak penyewaan payung di sini dan mantel hujan yang terbuat dari bahan plastik, jika anda tidak ingin basah, anda bisa menyewa payung atau membeli mantel hujan tersebut. Sayang sekali saat kami tiba di lokasi air terjun sedang gerimis, pemandu lokal yang kami sewa menyarankan kami agar tidak berlama-lama di dalam area air terjun, karena jika hujan tiba-tiba datang, ada kemungkinan banjir bandang juga akan datang, sehingga akan menutup jalur kembali, dan kami tidak ingin tertahan di dalam area air terjun karena hujan ataupun banjir bandang. Setelah mengambil foto dan menikmati suasana, kami segera meninggalkan area air terjun dan kembali menyusuri tepi sungai, hujan semakin deras saat kami kembali, beruntung aliran sungai yang kami sebrangi tidak terlampau tinggi sehingga kami masih bisa kembali menuju pintu gerbang. Kami menyempatkan menikmati teh panas di warung-warung yang berjejer di di dalam area pintu masuk air terjun, lagipula hujan masih deras, tapi setelah menunggu beberapa lama, hujan juga tak kunjung reda, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel tanpa menunggu hujan reda.

Malam ini seharusnya kami akan bermalam di home stay yang disediakan oleh operator rafting di sungai Pekalen – Probolinggo, tapi setelah mempertimbangkan informasi dari pihak operator bahwa ada banyak nyamuk di home stay yang akan kami tinggali, kami memutuskan untuk sekali lagi bermalam di lereng gunung Bromo di hotel yang sama. Saat kami tiba di hotel hujan sudah reda dan hari sudah sore, kami akan menghabiskan sisa hari ini di hotel di lereng gunung Bromo sambil menikmati suasana malam di Bromo yang dingin, besok pagi-pagi setelah sarapan pagi, kami akan melanjutkan perjalanan menuju lokasi rafting di sungai Pekalen, yang masih di Probolinggo.

Leave a Comment